melati Rp.500

pagi itu, kuterima upah lima ribu kuberjalan gontai, melintasi jalan basah berlumpur tanpa alas kaki dengan perut lapar ditikungan menuju jalan besar kuberpapasan dengan seorang pengamen beruntung aku, dengannya aku bisa menukar upahku dengan uang logam limaratusan keteruskan berjalan, dan terus berjalan hingga akhirnya kutepat berada disebuah pojok sepi sebuah tempat bekas rumah yang sarat [...]

MATAHARI BERANGIN

bersama matahari kumelihat angin melayang, menukik, menusuk, tak bisa diam sambil kupejamkan mata kumerasakan desirnya, aromanya saat kutanyakan pada matahari dalam diam bersama, kudengar jawabnya akulah yang turut menggeraklayangkan dengan hangatku kuarahnaikturunlayangtukiktusukkan angin masih dalam kebersamaan yang sunyi aku dan mentari, mencoba menaiki angin dengan lembut dan pelan matahari mendekati angin dan sesaat yang begitu [...]

tak ada

dan matahari kehilangan hangat di pagi hari dan embun memanaskan putih kabut mengapa anomali perih yang kurasa dimanakah hangatmu dimanakahkan segarmu matahari embun kasih rindu tak ada… 15:09|27-04-2009|senin

gelora warna

bukan itu yang kucari bukan merahmu, juga bukan jinggamu kurasa hanya warnamu yang tak kutemui, namun kau punyai itupun tak pernah kumengerti hanya sepoi mimpi yang menerpa wajah sepiku tak pernah kumengerti hingga gelora itu perlahan menggodaku menarikku dan membiarkanku tertegun karena impresinya begitu kudiam, warna itu menyeruak, mengoyak rasaku menenggelamkanku di kedalaman tak berujung [...]

SEPERTI ITU

Pada malam ku berharap, lupakan silau terang Abadikan gelap dalam lindap hati penuh harap Kerasukanku akan heningmu Menyatupadu dalam lunglai insani diri Supaya ini menyatu itu, Segera risau yang kurasuk Bukan, Bukan hitam yang menyata fakta Namun hitam menerang rasa Berjumpalitan melanglang masa, menelaah gumam dalam kelam Gelap terang tak jua membunuh kenang Solo|07:42|4april 2009

Jerembab waktu di ujung tipu

Luar biasa tirani ini menjebakku Berulang dan berkali mengelabu Menjeruji imaji mengerangkeng hasrat Permata lenyap, remuk tak berusai, tak berawal Geram diri ditelikung goblog Padamu kutitipkan merah Gelegaknya biar meruap pagi Menghapus mentari Membantai caramu, Tabiatmu Bahkan takkesadaranmu akanku Solo|09:11|3|3|2009-04-03

jelaga pagi

Sebuah pagi bernama sepi Mentari berjelaga ragu Gumam angin di rerimbun mimpi Seperti apapun, begitupun aku Berada dan mengobsesi bimbang Jelang terang merambat bayang Bayang separuh tertekuk lubang Mengambang, dan terkerangkeng kenang Siapa bisa lepas? Sayap imaji terkibas Terbang meluas gagas Meski bebas terampas Terampas keakuan yang mengganasss… Solo | 07:23 | 25 maret 2009 [...]

sore imaji

panas mentari sore hari luka hati tak terperi, rasa yang teringkari gelegak zaman nir-rasa, gelegak masa mematri menyelusup pelan di jiwa, menorahkan perih tak terperi mentah sungguh aku ini dalam jelaga rindu, dalam abai nurani tak sesiapapun menemani selain hasrat untuk menghuni menghuni ruang imaji berselimut hening hening tanpa rasa, melayang dan hilang… solo, 16:50 [...]

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.