dan matahari kehilangan hangat di pagi hari dan embun memanaskan putih kabut mengapa anomali perih yang kurasa dimanakah hangatmu dimanakahkan segarmu matahari embun kasih rindu tak ada… 15:09|27-04-2009|senin

dan matahari kehilangan hangat di pagi hari dan embun memanaskan putih kabut mengapa anomali perih yang kurasa dimanakah hangatmu dimanakahkan segarmu matahari embun kasih rindu tak ada… 15:09|27-04-2009|senin
kurasa liar yang menguasaiku atau sebentuk setan nyasar yang kejam membujuk, melogika benar semua kesalahan menelikung sadar, dan mencemooh nalar bertalu-talu genderang tipu mengajakku menari meliuk-liukkan nafsu hewaniku, hingga eksatase dan apapun yang kulihat berubah merah, membakar kau yang menyatusetani,kau yang tak kupahami hanya satu tanda yang kukenali, lembut kedondongmu itu benar-benar karma nyata untukku [...]
aku harus hindari sepi yang menusuk rindu yang membunuh dan hening yang nelangsa ohhh… mengapa kau bunuh gelap yang kurindu wahai terang siang ohhh… mengapa kau bantai hening yang tentram wahai ramai mentari di beranda sunyi harusnya kutemi kau bukan di carut-marut kalut biar ku di sini menjamin mimpi dengan misteri menggantang harap diterik gelora [...]
bukan itu yang kucari bukan merahmu, juga bukan jinggamu kurasa hanya warnamu yang tak kutemui, namun kau punyai itupun tak pernah kumengerti hanya sepoi mimpi yang menerpa wajah sepiku tak pernah kumengerti hingga gelora itu perlahan menggodaku menarikku dan membiarkanku tertegun karena impresinya begitu kudiam, warna itu menyeruak, mengoyak rasaku menenggelamkanku di kedalaman tak berujung [...]
Pada malam ku berharap, lupakan silau terang Abadikan gelap dalam lindap hati penuh harap Kerasukanku akan heningmu Menyatupadu dalam lunglai insani diri Supaya ini menyatu itu, Segera risau yang kurasuk Bukan, Bukan hitam yang menyata fakta Namun hitam menerang rasa Berjumpalitan melanglang masa, menelaah gumam dalam kelam Gelap terang tak jua membunuh kenang Solo|07:42|4april 2009
Luar biasa tirani ini menjebakku Berulang dan berkali mengelabu Menjeruji imaji mengerangkeng hasrat Permata lenyap, remuk tak berusai, tak berawal Geram diri ditelikung goblog Padamu kutitipkan merah Gelegaknya biar meruap pagi Menghapus mentari Membantai caramu, Tabiatmu Bahkan takkesadaranmu akanku Solo|09:11|3|3|2009-04-03